Cara Menghitung Harga Perkiraan Sendiri (HPS) / Owner Estimate (OE)


Sebenarnya saya gak begitu bisa cara perhitungan HPS/OE, karena saya bukan panitia pengadaan barang & jasa he he he… Biasanya saya cuman memproses pencairan Surat Perjanjian Kontrak (SPK) nya saja, mulai dari bikin nota dinas, ringkasan kontrak, buat kwitansi, nyusun SPKnya *soalnya rangkap 4 -__-’*, dijilid dan yang paling susah bikin marah dan jengkel adalah minta tanda tangan panitia pengadaan barang & jasa, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Pak Kaban karena mereka gak selalu ada ditempat, kadang2 mereka dinas luar atau pelatihan di luar kota.

Pas tahun anggaran 2012 (tahun ini) saya diberi kesempatan sama pak bos buat bikin SPK sendiri :) , mulai dari SPK Pelaksana Kegiatan Swakelola Oleh Instansi Pemerintah Lain Pelaksana Swakelola (Pendampingan Perguruan Tinggi), SPK Pengadaan Barang & Jasa dan SPK Pengadaan Akomodasi dan Konsumsi (Hotel). Bener bikin sendiri? ya nggak dong, tentunya dibimbing dan konsultasi dg panitia pengadaan, PPK dan Bu Bendahara kan saya masih dalam tahap belajar, right? :)

Oke langsung to the point saja, dalam HPS/OE kita harus menghitung (i) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%, (ii) keuntungan rekanan, (iii) Pajak Penghasilan Pasal 22 atau disingkat PPh 22. Misalnya di dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kita tercantum Pembelian Laptop 12 inch sebesar Rp. 15.000.000,- maka langkahnya :
1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Untuk menghitung ppn 10% dari plafon Rp. 15.000.000,- yaitu dg rumus :
x + 10%x = Rp. 15.000.000
x + 10/100x = Rp. 15.000.000
100/100x + 10/100x = Rp. 15.000.000 (disamakan penyebutnya)
110/100x = Rp. 15.000.000
1,1x = Rp. 15.000.000
x = Rp. 15.000.000 / 1,1
x = Rp. 13.636.364 (dibulatkan)
Jadi ppn nya adalah Rp. 15.000.000 – Rp. 13.636.364 = Rp. 1.363.636,-
Kpgn cara yang lebih cepat? Caranya dibagi dengan 11 (sebelas), yaitu Rp. 15.000.000/11 = Rp. 1.363.636,- gimana sama gak? right? Pokoknya kalau mau mencari pajak 10%  tinggal dibagi 11 saja, sudah dijamin benar :)

2. Keuntungan Rekanan (Estimasi Harga)
Maksud keuntungan rekanan disini yakni harga dipasaran ditambah fee rekanan, untuk rangenya tergantung kesepakatan tapi biasanya sih 7,5% – 15% dari harga pasaran. Nah kita kan sekarang ngitungnya mundur, dari plafon di DPA mencari kisaran harga pasar. Misalnya kita tentukan feenya sebesar 15%, maka caranya sama seperti diatas :
y + 15%x = Rp. 13.636.364 (ini adalah harga setelah ppn)
y + 15/100y = Rp. 13.636.364
100/100x + 15/100x = Rp. 13.636.364 (disamakan penyebutnya)
115/100y = Rp. 13.636.364
1,15y = Rp. 13.636.364
y = Rp. 13.636.364 / 1,15
y = Rp. 11.857.708 (dibulatkan)
Jadi fee nya adalah Rp. 13.636.364 – Rp. 11.857.708 = Rp. 1.778.656,-
Kpgn cara yang lebih cepat? Caranya dibagi dengan 1,15 (satu koma lima belas), yaitu harga setelah pajak/1,15 atau Rp. 13.636.364/1,15 = Rp. 11.587.708,- sama kan? Lha kalau12,5% dibagi berapa? Kalau fee 12,5% dibagi 1,125, sedangkan kalau 10% dibagi 1,1.

3. Pajak Penghasilan Pasal 22 atau PPh 22
Nah kalau pph 22 itu gak perlu kita hitung, biasanya ketika Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) akan otomatis dipotong oleh Biro Keuangan atau Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) sebesar 1,5%

Sudah selesai? masih belum hoi…. he he he  :) Perhitungan kita yg terakhir tadi kan Rp. 11.587.708,- nah ini adalah harga patokan kita untuk mencari barang yg akan kita beli, jadi kalau kita mau beli barang harganya sekitar itu atau dibawahnya, jangan lebih :) Lha terus kalau kita sudah nemu barang dan harganya gimana ngitung HPS/OE nya? Ya tinggal dibalik aja ngitungnya, dari nomer 2 ke nomor 1.

Saya kasih contoh riilnya, tadi perhitungan terakhir kita Rp. 11.587.708,- setelah saya kesana kemari *ayu ting2 ;)* nyari2 dan browsing2 akhirnya saya nemu harga laptop sebesar Rp. 11.358.600,- jd gak melebihi plafon yg kita hitung tadi :) Sekarang kita menghitung maju dari 2 ke 1, caranya sebagai berikut :
1. Keuntungan Rekanan (Estimasi Harga)
misalnya kita kasih fee sebesar 15% sehingga Rp. 11.358.600 + 15% maka hasilnya adalah Rp. 13.062.390,-

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Setelah kita menghitung keuntungan rekanan (estimasi harga) kita hitung ppn nya, caranya mudah cukup ditambah 10%, yaitu Rp. 13.062.390 + 10% maka hasilnya adalah Rp. 14.368.629,-

Nah hasil akhirnya adalah Rp. 14.368.629,- nanti angka ini yang muncul di kwitansi dan di dokumen kontraknya, loh kok gak pas Rp. 15.000.000,- masih sisa dong? Ya gak apa2 nanti sisanya kan bisa digeser waktu P-APBD untuk kegiatan yg lain :) Selamat mencoba, maaf kalau ada kesalahan dan ketidaksempurnaan, karena saya juga masih belajar :)

Dibawah ini adalah tabel HPS/OE nya (klik gambar untuk memperbesar) :
Owner Estimate (OE)/Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
Mohon komentarnya ya ;)?

Update :
Saya lupa memberi tahu teman2 kalo bikin OE jangan dikasih merek/merk barangnya ya ;) sekalian bonus Saya kasih file OE nya, he he he…  >>download file OE<<

Tags: , ,

22 responses to “Cara Menghitung Harga Perkiraan Sendiri (HPS) / Owner Estimate (OE)”

  1. Fery says :

    Thank gan infonya bermanfaat banget..

  2. raoda says :

    trima kasih banget atas pengetahuan yg dberikn……

  3. comic says :

    Akhirnya ada yg bagi ilmu ttg hal ini, makasih banyak bos. Tapi dasar hukumnya apa aja ya?

  4. RYANOZUKE says :

    di LAMPIRAN PERKA NO. 14 TAHUN 2012 di sana menyebutkan kalo HPS tidak boleh memperhitungkan Pajak Penghasilan Penyedia..

    bagaimana menurut anda??

    • mynameisdony says :

      السلام عليكم Bapak
      Di Perka LKPP Nomor 14 Tahun 2012, Bab II Tentang Pengadaan Barang disebutkan “HPS tidak boleh memperhitungkan biaya tak terduga, biaya lain-lain dan Pajak Penghasilan (PPh) Penyedia.”

      Memang benar, karena Pajak Penghasilan (PPh) Penyedia akan otomatis terbayar/terpotong pada saat Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) keluar dari BPKAD. Jadi Bapak tidak usah menghitungkan besaran nilai PPh nya, semoga membantu :)

  5. langlang says :

    wow … keren

  6. samsulramli says :

    Mohon maaf ijin sharing tentang keuntungan, menurut saya ketika sumber informasi harga adalah Harga Pasar maka tidak perlu lagi memperhitungkan keuntungan karena didalamnya sudah termasuk keuntungan… berbeda kalau misalkan sumber informasi adalah Harga Dasar (Harga Pokok Produksi) maka wajar jika kita ingin membeli pada Harga Pasar ditambahkan faktor keuntungan…

    Demikian sekedar masukan atas artikel yang sangat bernas ini dan dapat dijadikan referensi bagi penyusunan HPS yang baik…

    Salam Hormat..

  7. andi bro says :

    MAU NANYANI PAK KEUNTUNGAN REKANAN UNTUK PENGADAAN BARANG MAKSIMAL BERAPA % DASARNYA DIMANA MISALNYA PENGADAAN KOMPUTER, LAPTOP, ACC DLL SEJENISNYA

  8. Abdul wahid says :

    ijin koreksi, mas. itu tabel HPS/OE perhitungan PPN-nya tidak seperti yang dijelaskan diatas, yang benar yang mana 1/11 atau 1/10 ? mohon tanggapannya

    • Juli Ds says :

      untuk informasi harga, adakah batas minimum berapa sumber harga (toko/supplier) yang diharuskan? bagaimana menentukan nilai HPSnya, apakah dibagi rata-rata, atau diambil yang terkecil? terimakasih sebelumnya

  9. mas laron says :

    Suwun cak

  10. dee says :

    ilmu baru,,,haha,,tks gan,,, bingung juga nih orang2 ngomong oe… oe..

  11. fitri says :

    Tidak bisa di download ya…

  12. Rony Rihi says :

    Penjelasan bpk tentang penghitungan ppn pada tulisan beda dengan pada contoh gambar. pada tulisan: nilai pengadaan-1,1 sedangkan pada gambar 0.1 x nilai pengadaan.

Tambahkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: